Love is Love

“Jangan kau kira cinta datang dari keakraban yang lama dan pendekatan yang tkun. Cinta adalah anak kecocokan jiwa dan jika itu tak pernah ada, cinta tak akan pernah tercipta dalam hitungan tahun bahkan milenia.”
Kahlil Gibran.


Cinta !! Kata “Keramat” yang mengandung pemahaman yang berbeda-beda dari setiap yang “mengaguminya” atau bahkan “membencinya”. Cinta terkadang dipahami sebagai sesuatu yang indah, perasaan yang membahagiakan bagi sebagian orang yang dimabukkan oleh madunya cinta. Namun menjadi duri yang mencabik-cabik, seperti ingin mati saja bagi sebagian orang yang kebagian racun cinta. Memahami cinta adalah pekerjaan yang gampang-gampang susah, sebab dunia cinta merupakan dunia yang sebenarnya mempunya makna yang dalam, namun praktiknya bisa menjadi dangkal. Kadang bisa membahagiakan, namun bisa menyengsarakan, mengangkat jiwa dengan begitu tinggi, namun kemudian bisa menghempaskan siapa saja yang terlena. Mengapa satu kata yang sederhana ini dapat dirasakan dengan cara yang berbeda-beda oleh setiap orang? Mengapa cinta tidak manis saja atau pahit saja? Itulah cinta, kadang seperti sangat mudah untuk dimengerti namun ternyata tidak semudah yang dibayangkan.

Jadi sebenarnya cinta itu seperti apa? Kahlil Gibran mengatakan bahwa cinta adalah sebuah kata bercahaya, ditulis oleh tangan cahaya, pada malam cahaya. Cinta laksana sumber air keabadian yang senantiasa mengalirkan kesegaran pada kepada jiwa-jiwa yang kehausan. Cinta laksana anggur lezat yang terasa sangat manis di bibir, yang sanggup memberikan kehangatan kepada tubuh, namun juga tak jarang menyemaikan kemabukan.
Manusia tak dapat mereguk aroma cinta sebelum ditelan kenestapaan, diusik oleh kehilangan dan diuji oleh kesabaran dan kekalahn yang menyesakkan dada. Karena impian dan cinta akan senantiasa saling memberi dan menerima antara satu dengan lainnya sebagaimana yang dilakukan matahari sewaktu mendekati malam dan bulan menjelang pagi. Cinta tidak memberimu apa-apa, kecuali dirinya sendiri. Cinta tidak meminta apapun darimu, kecuali cinta itu sendiri. Cinta tidak memiliki dan tidak dimiliki. Karena cinta hanya untuk cinta.

Menurut Sigmund Freud, seorang ilmuwan psikologi yang ahli dalam bidang psikoanalisis, seorang manusia yang sehat baik secara psikis maupun akalnya adalah seorang yang mampu untuk mencinta. Kemampuan seseorang untuk mencintai merupakan bukti akan kesehatan baik secara psikis maupun kemampuan akalnya. Sedangkan menurut Ahmad Bahjat, Jika seseorang dapat membedakan lawan jeninya bukan karena ia paling tampan atau cantik, paling cerdas, paling tepat, dan bukan karena lebih utama untuk dicintai tetapi karena keindahan dan kekurangannya, itulah cinta.
Orang-orang bijak berkata, bahwa cinta itu satu arah, memberi dan mengorbakan diri untuk pujaan hati. Cinta itu bukan sekeadar perasaan, tetapi keputusan untuk mencintai. Cinta adalah sebuah kata hati yang membutuhkan kebersamaan dan kehangatan yang akan tercipta bila setiap pasangan yang menjalaninya berhasil menumbuhkan semangat berkorban dan saling pengertian.

Dari sejak dahulu kala cinta diekspresikan orang dengan cara yang berbeda-beda. Mulai dari yang hanya sekedar mengatakan ungkapan cinta san kasih sayang kepada orang-orang yang dicintainya, dan ada juga yang mengekspresikan cinta melalui bunga, hadiah, ciuman, dan lain sebagainya. Dan jangan kaget kalu ternyata ada juga yang mengekspresikan cinta dengan cara memarahi, menegur, memukul, melukai bahkan bunuh diri. Aneh bukan? Orang dapat mengatasnamakan cinta sebagai alasan atas semua tindakannya. Cinta menjadi alasan seseorang untuk membahagiakan orang lain dan cinta dapat pula menjadi alasan seseorang untuk menyakiti orang lain.

Taruhlah aku seperti meterai pada hatimu, seperti meterai pada lenganmu, karena cinta kuat seperti maut, kegairahan gigih seperti dunia orang mati, nyalanya adalah nyala api, seperti nyala api TUHAN! Kidung Agung 8 : 6




Read Another Posts